Hooked on Chicco’s Charisma

by Tuesday, April 19, 2016

His full name is Chicco Jerikho Jarumillind. He will turn 32 years old this July 6th and have made head turns whenever he passes over the past few years back. The charm is too strong with this one. Yes, the very own Chicco Jerikho. Though he was made famous since the soap opera “Cinta Bunga”, but Chicco’s acting skill was praised by many  since Rudi Soedjarwo’s 2008 “In The Name of Love”.

design 1

Di tahun 2014, Chicco bermain dalam film “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku” dimana perannya sebagai Sani Tawainella, seorang mantan pesepakbola yang gagal dan menjadi tukang ojek, diharuskan untuk menggunakan dialog Ambon di keseluruhan film. Film ini meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2014.

And the rest, well you know the story.

Chicco played in many movies until there comes a point where all the theaters were filled with different movie posters, where all the movies were starred by Chicco.

Fast forward to the present day, Chicco is busy promoting a biopic film of “Surat Cinta Untuk Kartini”, where he played as Sarwadi, a humble mailman. Produced by MNC Pictures, the movie tells a story of local heroine Kartini through Sarwadi’s point of view.

“Sarwadi adalah tukang pos yang mengantarkan surat untuk Kart ini.” Chicco casually explained during our exclusive interview. “Yang membuat menarik dari film ini, pada tahun 1901, tidak banyak rakyat yang bisa membaca dan menulis, hanya keluarga dengan jabatan saja yang bisa. Tapi di sini peran saya menjadi sudut pandang yang berbeda dari film tersebut, karena pekerjaannya sebagai tukang pos dan sering melihat Kartini bersurat-suratan, lama-lama Sarwadi jatuh hati dengan Kartini.”

Cinta yang dimiliki oleh Sarwadi itu awalnya memang pure kekaguman, merasakan cinta yang sebenarnya.

Looking really relaxed in a black tshirt, Chicco went on saying, “Dalam film itu, Sarwadi menikah karena dijodohkan dan istrinya meninggal saat melahirkan. Jadi bisa dibilang Kartini adalah cinta pertama Sarwadi. Dengan kepolosan Sarwadi yang sering dicemooh oleh sahabat-sahabatnya, dan kebaikan hati Kartini dalam memegang teguh pendapatnya, Sarwadi tetap mencintai Kartini.”

And so we wondered, from giving his best performance as an Ambonese guy to a Javanese guy who’s in love with Kartini in this movie, what would the preparations be?
“Kesulitan yang saya hadapi lebih kepada pemahaman bahasa Jawa. I must not overdo the dialect; nggak boleh terlalu medhok biar terlihat natural, dan juga penggunaan Jawa halus harus diperhatikan. Saya mendalami peran Sarwadi saat proses reading, tapi sedikit banyak saya ikut andil dalam pembentukan karakter dia, menjiwai dan merasakan, ‘Oh begini toh jadi Sarwadi’.”

It’s safe to assume that you enjoy acting. Could you share to us which movie leaves quite the impact for you?
“I would say “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku”. I had to stay in Maluku for 8 months. We did a lot of research, and because I lived there, I became fluent in speaking the local language. Bukan hanya bahasa sehari-hari, tapi juga bahasa Tanah-nya, bahasa yang hanya digunakan oleh para tetua di Tanah Maluku. They even considered me as native Maluku, saya juga diangkat sebagai Duta Pariwisata Maluku oleh pemerintah daerah.”

chicco

What is it about the movie industry that ignites the spark in you?
“Working in this industry is like my devotion. I would also love to be a producer. Film “Filosofi Kopi” adalah proyek film pertama saya. Being a producer is more fun than being an actor because the producer chooses the storyline, dan jadi paham cerita di baliknya. Di “Filosofi Kopi”, saya belajar tentang kopi ke petani kopi dan dari situ saya tahu bahwa kopi Indonesia adalah kopi terbaik ketiga di dunia. Kalau untuk ke depannya, saya tertarik bermain di film laga karena selain harus menghafal dialog, saya juga harus menghafal koregrafi.”

Tell us about your major influence.
“Almarhum Didi Petet. Saya pernah bermain di mini drama bersama beliau, and I learned a lot from him. Selain beliau, juga Lukman Sardi and Tio Pakusodewo. Penasaran juga dengan Widyawati. Walaupun pernah satu film di “Surat dari Praha”, tapi tidak pernah dalam satu scene.”

What if you could play with actors who have passed away, who would your choice be?
“James Dean. I don’t know why. Robbin Williams, he’s a great actor. Dalam negri, masih ingin beradu akting dengan almarhum Didi Petet dan Alex Komang.”

Kalau untuk film, apa film terbaik yang pernah kamu tonton?
“”The Revenant”. Akting Dicaprio benar-benar brilian. “Edward Scissorhands” juga.”

chicco2

Besides winning an award, what was your best achievement so far?
“Bisa menghadiri festival film asing. Saat ke Venice Film Festival untuk premiere film “A Copy of My Mind”, Johnny Depp ada di red carpet, sensasinya beda. Pernah juga kali ketika di Toronto Film Festival, saat itu sedang premiere film “Everest”, and I sat there watching in the same room with Jake Gyllenhaal.”

Do you also wish that in the near future Indonesian movie industry will be on par with them?
“Melihat peningkatan pesat di dunia perfilman sekarang ini, saya berharap dengan semakin banyak genre, maka semakin banyak juga aktor yang bisa memerankan karakter berbeda, jadi bukan hanya ‘akting’.”

Name one thing about yourself that people wouldn’t guess.
“An observer. I like to observe, either people or my surrounding.”

Writer: Adhinda Latifa
Photographer: Mario Raimond Bully
Graphic Design: Rusdah Ulfa
Wardrobe: Patrick Owen, available on BrandOutlet.co.id

14
No tags 0 Comments 14

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *